Cerpen #2

by - May 24, 2019

Well another weekend, another story. Hope you guys couldn't be much bored over this and don't forget to brush your teeth before sleeping hehe..

Love You Every Sight
https://www.wikihow.com/Tell-if-Your-Best-Friend-Loves-You
           Rasanya sungguh mendebarkan, saat-saat seperti ini sungguh membuat Tanya mual tak keruan. Bukan ujiannya sebenarnya. Tapi semester pertama ini kelas Tanya harus berbagi kelas dengan kelas lain. Bukannya apa, tapi banyak cowoknya. Horornya adalah yang tertulis di denah tempat duduk hanya nomor urut absen. Nomor 1 ya duduk dengan nomor 1. Tidak rumit memang. Tapi siapa tahu kalau cowok tak sopan  nomor absennya 22, sama dengan Tanya. Tak terbayangkan pokoknya!
       Perlahan akhirnya kelas hampir penuh. Aduh! Ini dia akhirnya gerombolan cowok datang. Sepertinya mereka sengaja begitu, sengaja telat, seolah-olah mereka kejutan yang dinantikan. Memuakkan.  Tanya langsung memejamkan mata pura-pura berdoa, tapi akhirnya berdoa sungguhan juga. Semoga duduk dengan cew... belum selesai Tanya membatin, bahunya ditepuk tidak sopan oleh seseorang. “Nomor 22, kan?” tanyanya tanpa merasa salah sedikitpun, sepertinya. Tanya Cuma mengangguk. Cowok. Ternyata Tanya duduk dengan cowok juga akhirnya. Menurut Tanya ini aneh. Terakhir kali dia sebangku dengan cowok dulu sekali, saaat Tanya SD. Gea sebangku dengan cewek, rupanya. Terlihat akrab dan menyenangkan. “Namaku Pugoh,” kata cowok agak kerempeng itu kemudian. Tanya hanya menjawab dengan senyuman.
**
            Tanya terpaksa juga harus berdorong-dorongan dengan teman yang lain hanya untuk sekedar mengumpulkan hasil ujian. Ingin segera pulang. Gea menghampiri. Dia sudah keluar duluan rupanya. “Tega kau!” bentak Tanya bercanda. “Aku lihat tadi cowok yang duduk dengan Anne selesai paling dulu, aku kan penasaran dia seperti apa, jadi..” Gea sengaja menggantungkan ucapannya. “Love at first sight, maksudmu?” Tanya menuduh. “Bukan, cuma ingin tahu. Lagian siapa suruh tinggi menjulang seperti itu.” Gea mengelak juga sambil menunjuk anak laki-laki yang dimaksudnya. “Aku pernah melihatya di mana ya...” jawab Tanya tak memperdulikan kata-kata Gea, sambil menuding cowok jangkung yang sedikit rendah dari cowok yang disebut-sebut Gea. Mereka berjalan beriringan memondong bola basket lusuh. ”Oh.. itu love at first sight-mu?” balas Gea. “Enggaklah, Cuma sekedar pernah lihat. Kalaupun iya aku sekarang jatuh cinta, berarti ini love at sacond sight.” Jawab Tanya lalu tertawa. Gea serius rupanya. “Sepertinya sekarang belum. Tapi aku yakin pasti love at third sight.” Lontar Gea. Tanya menerawang sambil terus memandang punggung itu sampai menghilang di belokan koridor lantai dua, menuruni tangga sepertinya.
            Sesampainya di tempat parkir, Gea berdada-dada sambil merogoh sakunya, mencari kunci motornya. Tanya senyum lembut, malu mau melambai juga, terlalu banyak cowok di kantin yang tak jauh dari tempat parkir motor, yang padahal belum tentu memperhatikan mereka. Dasar aneh. Tapi akhirnya melihat Gea sudah sibuk sendiri, Tanya berjalan melalui setapak kecil di pinggir lapangan basket. Tanya otomatis menoleh saat mendengar suara ‘Tos’ keras dari lapangan basket, rupanya ada tanding kecil-kecilan. Nggak peduli ujian mereka, tak seperti Tanya yang terlalu konyol menganggap ujian itu sesuatu yang sangat penting. Tapi, bukankah yang benar begitu kan?
            Kaget. Tanpa sadar Tanya molongo. Punggung itu membuat Tanya menghentikan langkahnya. Menoleh celingukan mencari-cari Gea. Nggak ditemukan sahabatnya yang satu itu. Nggak buruk batinnya. Dia kembali mencari-cari punggung itu. Wajahnya menyiratkan jelas dia pendiam yang misterius. Pendiam yang penuh ragu tapi juga sorot mata yang teduh, tenang. Dia memakai sepatu keren, tentu. Dia memakai topi seragam, yang baru jatuh lalu segera dipungutnya, kemudian dilempar ke arah tumpukan tas-tas. Melesat agak sedikit jauh. Inikah love at third sight?
Saat matanya menemukan Tanya, segera cewek pemalu yang agak sinting dibuatnya itu berlari mencari-cari gerbang ingin segera pulang, pura-pura sebenarnya. Setelah menemukan ujung sekolah itu, menyesal juga akhirnya. Tanya menyesal tiba-tiba kabur begitu.
**
            Pagi ini Tanya terlihat terlalu bersemangat sepertinya, ya ampun. Tapi justru membuatnya malu, tuh. Malu kalau saja ketahuan yang membuatnya girang ternyata seorang cowok. Hari sedikit gerimis. Bulan Juni. Awal Juni memang selalu begitu, harus repot bawa payung atau yang lain yang tidak kampungan seharusnya. Tapi ini Tanya, jadi dia memilih memakai jaket tebal saja. Semalam Tanya hanya membalik-balik buku dan tanpa membacanya sedikitpun, sungguh. Tanya juga sulit tidur. “Ada bocoran lagi, kan?,” tanya Vian pada Todi tanpa sungkan, yang tak sengaja didengar Tanya. Memalukan, batin Tanya setelah sampai di teras depan ruang ujiannya. Dan ternyata sudah ramai. Ujian hari ke dua, mereka lebih bersemangat ternyata. Padahal Tanya sudah berusaha berangkat sepagi mungkin. “Aku dengar ada yang dapat bocoran soal..,” bisik Gea sambil mencebik. “Kamu nggak malu apa sama anak jangkung yang cerdas itu?,” sindir Tanya sambil melipat jaketnya, “Kenapa jadi berujung soal... nah itu orangnya, tuh,” Gea menyikut lengan kanannya. Mereka berjalan bertiga. Selalu terlihat keren memang. Dia, si punggung misterius itu, si jangkung di sisi kirinya, dan yang paling kiri Pugoh. “Jangan terpesona, gitu ah!,” Gea menyadarkan lamunannya. “Aku Cuma heran, kenapa berangkatpun harus bersama-sama seperti itu. Norak!,” dusta Tanya akhirnya tak punya pilihan. “Tetap keren menurutku,” Gea begumam sendiri.
            Setelah bel berdering dan semua masuk ke ruangan, akhirnya Tanya lepas juga dari Gea. Akhirnya kelas sunyi, tenang selama 3 jam lamanya. Seperti kemarin.
**
            Dicarinya sosok itu. Tidak ada! Sudah yakin Tanya. Sudah berulang-ulang pandangannya menyapu seluruh lapangan basket tak layak itu. Ada si jangkung, si Pugoh, dan masih banyak lagi, tapi nggak ada cowok yang dicarinya itu. Sungguh. Akhirnya Tanya berjalan gontai, lemas. Percuma semangatnya pagi ini. Senang sih, sempat mencium aroma tubuhnya saat melewati mejanya untuk mengumpulkan hasil ujian tadi, ditambah melihat punggungnya, serta sekilas wajahnya saat baru tiba tadi. Sedetik kemudian, dia lupa ini hari apa atau apapun yang tak penting, atau yang terpenting sekalipun. Membeku. Berkeringat.   Cowok yang dicarinya sedari tadi itu terus mendekat, sementara Tanya pura-pura melakukan hal yang rasional. Memasang wajah senormal mungkin. Dia melewati Tanya begitu saja, sambil terus ngobrol dengan temannya. But, it’s enough for now.
**
            Ini merupakan hari terakhir ujian semester pertama. Rasanya, begitu cepat. Terlalu cepat. Biasanya akan terasa lebih baik begini, tapi sekarang nggak seperti itu lagi bagi Tanya. Prince Charming-nya itu masih sering muncul dalam mimpinya. Setelah hari itu. Hari di mana Tanya tahu namanya. Ternyata namanya Alfarel Rauki Hutomo. justru setelah hari itu semua jadi kurang sempurna. Entahlah, waktu selalu tidak tepat untuk mereka berdua.
            Rasanya kurang adil. Selalu tidak adil saat semua yang Tanya inginkan berlalu begitu saja. Tanpa sesuatu yang dapat dikenang. Sesungguhnya yang membuat ini semua terasa sangat bodoh adalah tak ada yang dapat Tanya lakukan sementara  yang diinginkan di depan mata, namun tak menolehnya sedikitpun! “Kamu kapan buka e-mail dari aku, huh?,” dorongan tangan Gea begitu kuat. “Hari ini?,” Tanya balik bertanya. “Soon ya!!,” Setelah Tanya naik motor Gea, ternyata Alfarel juga ada di lapangan parkir motor itu, memperhatikan Tanya, mungkin. Karena sekarang Tanya memandanginya. Tapi urung karena bentakaan Gea. “Udah siap, woy??,” “Ah, Oh udah.. ud.. udah, “ jawab Tanya gelagapan. Lalu segera dicarinya wajah itu, sudah menunduk diantara teman-temannya. Tanya bahkan nggak akan  mengira ada kesempatan seperti ini.
**
            Sesampainya di rumah Tanya segera membuka seragamnya dan mengganti dengan setelan lusuh berwarna pastel kesayangannya. Lalu memakai sweater di siang bolong. Tapi itu khas Tanya. Akhirnya buru-buru dia sign in e-mailnya. Ternyata ada e-mail dari orang lain juga. Segera dia baca, berulang-ulang, kata demi kata yang membuatnya hampir gila. Aku Alfarel yang kamu curi kartu anggota perpusnya. Are you the girl that I met at the bookstore near the Church a month ago? Sudah diduga, pasti telapak tangannya berkeringat saat mengetik baris demi baris kalimat untuk membalas e-mail mengerikan itu.
So great to know you more. Sorry about that, I just want to know your name. How could you remember it?
            Tanya baru sadar. Cowok itu, tentu saja. Cowok yang keliru memberikan uang kembalian. Dia sangat bodoh. Padahal dia menggunakan mesin kasir. Tapi dia sangat bodoh. Hal itu membuat Tanya geli. Bagaimana dia masih mengingat wajah Tanya yang tidak rupawan ini. Sungguh aneh. Kemudian Tanya meng-klik send. Dan tentang pencurian itu Tanya ingin pura-pura lupa saja. Itu kan ide Gea, Tanya hanya membantu agar Gea tahu nama si jangkung dan sekalian dia ambil milik temannya yang ingat wajah Tanya yang flat ini. Jadi Tanya merasa sekali mendayung, seribu pulau terlampaui.
**
Hari ini bukan hari biasa. Hari yang mendebarkan. Memikirkan e-mail akhir pekan itu, membuat perut Tanya mual lagi. Entah apa nanti yang akan dilakukannya, kalau tiba-tiba saja Alfarel jatuh dari langit dan menanyakan e-mail itu. Bisa saja kan? Who knows? Dia sudah berjanji akan mengembalikan kartunya begitu ketemu.
“Mikir aku ya?,”sentak Skandar salah satu sahabat Tanya juga. Namun, tak sedekat dia dengan Gea. “Aku menunggu Gea, kau sendiri?,” jawab Tanya agak lambat sepersekian detik. “Nothing,” Skandar memainkan rambut Tanya sekarang. Andai Tanya bisa menyebutnya lebih dari sekedar sahabat. But, what it mean, then?
**
 “Ginny Weasly!,” Tanya menoleh suara itu. Oh God, Tanya melihat Alfarel tersenyum menatapnya. Tanya belum yakin, sih. Alfarel memanggilnya, atau memang ada Ginny Weasly di sekitar sini? Dalam hati, Tanya memutuskan memanggil Alfarel, Nevile Longbottom. Terakhir yang ia tahu setelah menonton Harry Potter and The Goblet Of Fire bersama Skandar dan Gea, Nevile dan Ginny datang ke pesta dansa sebagai pasangan. Alfarel sedikit berteriak mengalahkan ramainya kerumunan. Dia meneriaki Tanya dari lantai dua, sementara dia di lantai satu. Melihat tanya mendongak, Alfarel justru menjauh dari pandangannya. Meninggalkan Tanya yang terbengong-bengong. Dia bingung. Benarkah itu Alfarel? Sungguh yang dipanggilnya tadi Tanya? Banyak siswa berseliweran di sini. Tanya mungkin salah satu yang mendengarnya, dan spontan menemukannya. Tapi melihat tatapannya. Tanya menyukai degup jantungnya saat ini. Sungguh. Menyadari Alfarel tak lagi terlihat, Tanya mundur beberapa langkah berusaha menemukannya lagi. But he’s disappeared.
**
Liburan sudah tiba, dan semua semakin memburuk. Dia menolak menghabiskan liburan bersama Gea ataupun Skandar seperti biasanya. Dia menghabisnya sepanjang hari hanya diam di kamar, menunggu e-mail balasan dari Alfarel dan memeluk kartu anggota perpus miliknya yang belum juga dikembalikan. Useless.
**
Ini sudah hari kelima liburan dan penantiannya tidak sia-sia, setelah mencuci piring makan malam, Tanya berjalan gontai menyusuri anak tangga menuju kamarnya. Dan akhirnya wajahnya kembali cerah sepeti hari dimana dia –sepertinya- manjadi Ginny Weasly. Ada e-mail dari Alfarel. Dibacanya perlahan, Kita kan sudah 3 tahun sekolah bareng. Dan Skandar nggak pernah berhenti nulis tentangmu. He would act as Nevile Longbottom if you’re The Ginny Weasly, hehe sorry for disturbing. Aku nggak sengaja baca jurnalnya akhir tahun lalu, dan itu semua hanya tentangmu. Hope you’ll realized how worth you are for him. Dia sudah menunggu terlalu lama, samperin ya Tanya, Skandar itu kelewat gengsi. Maybe you’ve to know this, kita udah lama kerja bareng di toko buku tua dekat gereja itu. Mungkin kamu jarang lihat kita akrab di sekolah, but that’s we are hehehe. Have a great HOLIDAY!!!
            Tanya menjauh dari meja belajarnya, tanpa membalas surat elektronik yang ditunggunya setengah mati itu. Mereka memang tak pernah bicara di sekolah. Samasekali. Jadi Skandar yang sedang memerankan Nevile untuknya?

You May Also Like

0 comments