Does It Make Sense?

by - November 18, 2018


Harapan adalah yang paling menguatkan manusia dalam bertindak, melangkah dan memberi. Harapan sering kali membuat kita lebih lama menunggu. Menunggu sebuah kata yang terucap menjadi memori yang akan terlalui dan mungkin akan sulit untuk dihapus. Kata apapun yang terucap oleh seorang yang kita harapkan memenuhi, akan terasa layaknya janji. Janji yang menjadi piutang selama belum terpenuhi.




Padahal tanpa disadari kitapun sering sekali mengucap kata yang tersirat harap, kata yang berdenotasi janji. Mana mungkin kita  lupa? Karena tak ada kemauan sedari awal kata akan diucap. Ya karena hanya ingin sekedar berucap iya-iya aku nggak gitu lagi etc etc etc..


Tapi seyogyanya manusia, selalu menuntut atas harap yang kadang diciptai sendiri tanpa persetujuan pemberinya. Atau Cuma aku yang berfikir demikian?

Yatapi begitulah kurangku, mungkin ada yang demikian juga, ada kan yang pernah mendengar manisnya seseorang berucap iya nanti aku akan......


Padahal belum tentu ada ketulusan didalam ucapnya. Bisa saja itu menjadi kalimat yang memudahkannya untuk mengakhiri perbincangan denganmu. Atau (seperti budaya kita) hanya sekedar ingin menyenangkan orang lain.



Bahkan sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka yang telah muak dengan ucapan tanpa makna seperti tersebut diatas. Mereka dengan sadar memahami bahwa itu hanya manis di bibir dan dengan mudah juga melupakannya.


Aku juga selalu ingin berusaha seperti itu, melupakan kata tak bertuan harapnya dan bahkan janji tulus sekalipun. Coba deh kalian inget-inget lagi, pasti kalian akan pay more attention saat seorang yang kalian harapkan ucapnya menyatakan banyak hal-hal manis pada kalian, yang padahal belum tentu ketulusannya sampai di mana, somehow ada beberapa yang memang tulus berucap pada awalnya namun sungguh keadaan membuatnya sulit memenuhi and sometimes sebenernya ingin meminta bantuan kita untuk melakukannya, namun karena merasa kita tak menuntut lalu dibiarkan berlalu begitu saja. Nah, apalagi yang tanpa ketulusan, mereka terkadang hanya sekedar berucap, entah untuk bahan obrolan saja atau menyenangkan kita.


And the worst thing is dengan curangnya kita ingin sekali menagihnya atas nama janji. Ingat saja dulu semua tekad yang kita ucap untuk diri sendiri, have you done it all? Padahal aku yakin sih itu pasti kalian ucap dengan penuh kesungguhan. Toh kalian juga masih susah mewujudkannya. Padahal sama sih, ini semua dengan tujuan untuk kebaikan kalian, maybe~



Jadi jangan buat lelah diri kalian atas piutang-piutang yang belum tentu wajib ditepati karena tiada niat awalnya untuk kata tersebut diucap. Aku minta tolong untuk lebih menghargai lelah atas diri kalian yang telah melakukan banyak hal lain yang positif tentunya untuk diri sendiri bahkan orang lain. 
Lebih tekankan untuk mengingat banyak hal yang telah kalian tekadkan untuk memperbaiki diri. Coba deh buka kembali wish list yang kalian tulis pada malam 31 Desember 2017 misalnya. I bet there are so many things to do in 2018. So, tagihkan kegigihan diri sendiri untuk berhenti menjadi lebih buruk tanpa perbaikan, usahakan lebih atas janji yang kalian ucap, dan sekuat tenaga ingatlah tiap kata yang mungkin menjajikan orang lain or make it less (say something random that could be hope for others, instead).

You May Also Like

0 comments